KABARJOGJA membuka laporan terbaru mengenai aktivitas Gunung Anak Krakatau yang kembali menjadi perhatian setelah rangkaian erupsi berlangsung sejak Jumat malam, 4 September 2026. Gunung api aktif di Selat Sunda tersebut mengalami erupsi menerus mulai pukul 23.07 WIB dan baru mengakhiri episode panjang itu pada Minggu, 6 September 2026 pukul 00.04 WIB. Selama kurang lebih 25 jam, aktivitas vulkanik memunculkan lava pijar, gemuruh, serta semburan yang menyerupai air mancur lava atau lava fountain. Meski fase erupsi menerus berakhir, otoritas masih mempertahankan status Level III atau Siaga.
Abu Vulkanik Mencapai Ketinggian 50 Ribu Kaki
Dampak yang paling banyak menjadi pembahsan media muncul dari sebaran abu vulkanik. BMKG mencatat abu Anak Krakatau mencapai ketinggian hingga sekitar 50.000 kaki atau 15 kilometer pada lapisan tertentu.
Pemantauan satelit menunjukkan dua kelompok sebaran abu. Lapisan hingga 20.000 kaki bergerak menuju beberapa bagian DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, dan perairan sekitar. Sementara abu yang mencapai 50.000 kaki bergerak ke arah barat hingga barat daya, mencakup Banten, Lampung, Bengkulu, Selat Sunda bagian selatan, serta Samudra Hindia.
BMKG kemudian memperkuat pemantauan selama 24 jam karena posisi abu bersinggungan dengan jalur penerbangan. Pembaruan resmi mengenai pergerakan material vulkanik dapat dilihat melalui pemantauan erupsi Anak Krakatau dari BMKG.
Lebih dari 1.500 Penerbangan Terdampak
Gangguan oenerbangan menjadi konsekuensi paling terasa dari erupsi kali ini. Delapan bandara sempat menghentikan atau membatasi operasi karena abu vulkanik memasuki wilayah udara yang biasa menjadi lintasan pesawat.
Bandara Soekarano-Hatta dan Halim Perdanakusuma termasuk fasilitas yang mengalami gangguan. Bandara Raden Inten II di Lampung serta beberapa bandara lain di wilayah sekitar Jawa bagian barat juga melakukan penyesuaian operasional.
Kementerian Perhubungan mencatat lebih dari 1.500 penerbangan terdampak pada Minggu, sementara jumlah penumpang yang menghadapi pembatalan maupun perubahan jadwal maskapai sekitar 170.000 orang. Sejumlah penerbangan internasional dan domestik ikut mengalami pembatalan.
Abu vulkanik menjadi ancaman serius bagi penerbangan karena partikelnya dapat masuk ke mesin jet, mengurangi visibilitas, memengaruhi sensor, dan menganggu sistem pesawat. Karena alasan tersebut otoritas penerbangan cenderung mengambil langkah pencegahan meskipun kondisi bandara secara visual tampak normal.
Sekolah Beralih ke Pembelajaran Jarak Jauh
Dampak Anak Krakatau tidak berhenti pada sektor transportasi. Sejumlah sekolah di Jakarta dan Lampung mengalihkan kegiatan belajar menuju sistem pembelajaran jarak jauh guna mengurangi paparan abu terhadap siswa.
Warga di beberapa kawasan juga mengalami iritasi mata serta keluhan pada saluran pernapasan. BNPB bersama pemerintah daerah membagikan masker dan meminta masyarakat membatasi aktivitas luar ruang ketika konsentrasi abu meningkat.
Informasi perkembangan penanganan bencana dapat masyarakat ikuti melalui laporan resmi BNPB mengenai Anak Krakatau. BNPB juga terus berkoordinasi dengan instansi terkait untuk mengantisipasi perubahan arah abu serta dampaknya terhadap aktivitas publik.
Belum Ada Laporan Korban Jiwa
Di tengah besarnya perhatian publik, otoritas belum melaporkan korban jiwa maupun perintah evakuasi massal akibat erupsi terbaru. Ancaman langsung masih terkonsentrasi pada kawasan tubuh gunung dan daerah yang berpotensi terkena lontaran material.
PVMBG meminta masyarakat tidak memasuki radius tiga kilometer dari kawah aktif. Larangan tersebut juga berlaku bagi wisatawan yang ingin mendekat untuk mengambil foto atau video karena lontaran batu pijar dapat terjadi tanpa banyak peringatan.
Bagaimana dengan Potensi Tsunami?
Pertanyaan mengenai tsunami ikut muncul karena masyarakat masih mengingat bencana Selat Sunda pada 2018. Saat itu, longsoran sebagian tubuh Anak Krakatau memicu tsunami yang menelan ratusan korban jiwa di pesisir Banten dan Lampung.
Untuk rangkaian erupsi September 2026, pemantauan BMKG terhadap 20 sensor tsunami gauge di sekitar Selat Sunda hingga Minggu pagi tidak menemukan anomali signifikan pada muka air laut. Analisis pada saat itu juga menunjukkan probabilitas tsunami berada pada kategori rendah.
Kondisi tersebut bukan alasan untuk mengabaikan kewaspadaan. Masyarakat pesisir tetap perlu mengikuti informasi resmi sebab karakter gunung api yang berada di tengah laut membutuhkan pengawasan berkelanjutan.
Status Anak Krakatau Masih Level III Siaga
Per Senin pagi, 7 September 2026, Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga. Tren seismik memang menunjukkan penurunan setelah episode erupsi panjang, tetapi PVMBG menilai dinamika vulkaniknya masih cukup tinggi dan potensi letusan susulan tetap ada.
Peristiwa terbaru juga menunjukkan bahwa dampak erupsi gunung api tidak selalu terbatas pada daerah dekat kawah. Arah angin dapat membawa abu ratusan kilometer, sehingga transportasi, kesehatan, pendidikan, hingga aktivitas ekonomi di wilayah lain ikut terkena efeknya.
Karena itu, masyarakat sebaiknya menjadikan PVMBG, BMKG, BNPB, serta otoritas penerbangan sebagai rujukan utama. Informasi mengenai tsunami, evakuasi, perubahan status gunung, atau penutupan wilayah perlu mendapat verifikasi terlebih dahulu sebelum tersebar lebih luas. Selama status Siaga masih berlaku, kewaspadaan tetap menjadi langkah utama sembari menunggu perkembangan aktivitas Anak Krakatau berikutnya.









