banner 728x250

Timnas Basket Indonesia Tumbang 53-98, Korea Selatan Menanti

Kekalahan telak dari Jepang membuka perjalanan Indonesia di Asian Games 2026, sementara laga berat berikutnya datang tanpa banyak waktu pemulihan

banner 120x600
banner 468x60

KABARJOGJA mencatat Timnas Basket Indonesia membuka perjalanan di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 dengan ujian berat setelah kalah 53-98 dari tuan rumah Jepang, Kamis, 10 September. Bermain di Aichi International Arena, skuad Merah Putih kesulitan mengimbangi tempo permainan lawan sejak kuarter pertama. Indonesia kini harus segera mengalihkan fokus karena Korea Selatan sudah menunggu pada pertandingan kedua Grup A, Jumat, 11 September pukul 14.00 WIB.

Hasil tersebut menempatkan Indonesia di posisi keempat klasemen sementara Grup A Jepang berada di depan bersama tim lain yang sudah mengumpulkan hasil positif, sementara Indonesia membutuhkan respons cepat agar peluang melangkah lebih jauh tidak semakin berat.

banner 325x300

Jepang Langsung Menekan Sejak Kuarter Pertama

Jepang tidak memberi banyak waktu kepada Indonesia untuk membangun ritme. Tuan rumah langsung membuka permainan agresif dan memanfaatkan tembakan jarak jauh untuk menciptakan jarak.

Indonesia sempat merespons lewat Lester Prosper, tetapi Jepang terus menjaga intensitas. Skor sempat mencapai 21-8 sebelum kuarter pertama berakhir 29-9 untuk tuan rumah. Perbedaan 20 poin pada periode pembuka langsung membuat Indonesia harus bekerja jauh lebih keras pada tiga kuarter berikutnya.

Kuarter kedua tidak banyak mengubah situasi. Indonesia mencetak angka lebih dulu dan sempat memperkecil skor menjadi 11-29, tetapi Jepang kembali mempercepat permainan. Tuan rumah mencapai keunggulan 38-16 sebelum menutup paruh pertama dengan skor 55-21.

Selisih 34 poin saat halftime memperlihatkan masalah utama Indonesia: serangan sulit menghasilkan angka secara konsisten, sementara pertahanan belum mampu memutus aliran bola Jepang.

Lester Prosper Jadi Pencetak Angka Terbanyak

Lester Prosper menjadi pemain Indonesia dengan kontribusi angka tertinggi. Ia menyelesaikan pertandingan dengan 13 poin, empat rebound, dan satu assist. Yudha Saputera mengikuti dengan 12 poin, dua rebound, serta tiga assist.

Di kubu Jepang, Kazuma Tsuya memimpin dengan 23 poin. Ren Kanechika juga memberi dampak besar lewat tambahan 15 poin.

Memasuki kuarter ketiga, Jepang tetap mempertahankan kontrol pertandingan. Keunggulan mereka bahkan sempat menyentuh 40 angka saat papan skor menunjukkan 70-30.

Indonesia terus mencoba mengejar dan menghasilkan beberapa rangkaian angka, tetapi Jepang selalu memiliki jawaban. Kuarter ketiga berakhir 75-35 sebelum pertandingan akhirnya selesai dengan selisih 45 angka.

Hasil 98-53 tentu bukan pembukaan yang diharapkan pelatih David Singleton. Namun, perbedaan skor juga memberi gambaran nyata tentang level yang harus Indonesia hadapi selama kompetisi kontinental.

Indonesia Membawa Kombinasi Pemain Senior dan Muda

Skuad Indonesia untuk Asian Games kali ini terdiri dari perpaduan pemain berpengalaman dan talenta yang masih berkembang. Yudha Saputera memegang peran sebagai kapten, sementara Lester Prosper dan Anthony Beane memberi tambahan kekuatan.

Derrick Michael juga masuk dalam roster setelah melanjutkan perkembangan kariernya di Jepang bersama Saga Ballooners. Andakara Prastawa, Abraham Grahita, Ali Bagir, Vincent Kosasih, Dame Diagne, Pandu Wiguna, Hendrick Yonga, dan Fhirdan Guntara melengkapi tim.

Daftar lengkap roster tersebut menunjukkan Indonesia membawa pemain dengan karakter cukup beragam. Ada pengalaman, kemampuan menembak dari luar, ukuran tubuh di area paint, serta tenaga muda yang dapat membantu menjaga intensitas.

Indonesia sebenarnya berharap bisa membawa Marques Bolden. Namun, klubnya di Jepang tidak melepas sang pemain karena jadwal Asian Games berdekatan dengan agenda kompetisi klub. Pelatih akhirnya harus menyesuaikan komposisi tanpa salah satu big man terbaik yang biasa menjadi andalan tim nasional.

Sempat Terkendala Transportasi Sebelum Pertandingan

Persiapan menuju laga pertama juga menghadapi situasi yang tidak ideal. Tim Indonesia harus menunggu bus panitia selama 41 menit di Athlete Village sebelum berangkat menuju arena pertandingan.

Managing Director Badan Tim Nasional Perbasi Jeremy Imanuel Santoso menyayangkan keterlambatan tersebut karena transportasi merupakan bagian mendasar dari penyelenggaraan kompetisi besar. Meski demikian, pihak tim menegaskan masalah itu tidak mengubah fokus mereka terhadap pertandingan.

Keterlambatan bus tentu tidak dapat menjadi alasan atas selisih skor yang besar. Jepang menunjukkan kualitas permainan yang memang lebih efektif sepanjang empat kuarter. Namun, pada turnamen dengan jadwal sangat rapat, detail seperti transportasi, pemulihan, waktu makan, dan persiapan menuju arena tetap memiliki pengaruh terhadap rutinitas atlet.

Korea Selatan Datang Tanpa Banyak Waktu Istirahat

Indonesia sekarang menghadapi tantangan yang tidak lebih ringan. Korea Selatan menjadi lawan berikutnya hanya sehari setelah duel dengan Jepang.

Pertandingan berlangsung di Aichi International Arena pada Jumat pukul 14.00 WIB. Setelah itu, Indonesia mendapat satu hari jeda sebelum menghadapi Arab Saudi pada 13 September.

Situasi tersebut membuat kemampuan melakukan recovery menjadi sangat penting. David Singleton tidak memiliki banyak waktu untuk melakukan perubahan besar pada sistem permainan. Prioritas kemungkinan berada pada perbaikan sederhana tetapi mendesak: mengurangi turnover, menjaga defensive transition, serta meningkatkan kualitas eksekusi serangan.

Korea Selatan memiliki tradisi basket kuat di Asia dan biasanya mengandalkan kecepatan sirkulasi bola serta akurasi tembakan. Jika Indonesia kembali memberi lawan ruang pada awal laga seperti saat menghadapi Jepang, pertandingan bisa berkembang semakin sulit.

Kekalahan Besar Harus Segera Menjadi Evaluasi

Skor 53-98 memang terasa berat, tetapi turnamen belum selesai setelah satu pertandingan. Justru fase grup menuntut tim bergerak cepat dari hasil buruk menuju pertandingan berikutnya.

Indonesia perlu menjaga mental pemain agar kekalahan pertama tidak terbawa ketika menghadapi Korea Selatan. Lester Prosper dan Yudha Saputera sudah menunjukkan bahwa Indonesia memiliki sumber poin. Tantangan berikutnya adalah membuat kontribusi lebih merata dari pemain lain.

Kehadiran Derrick Michael juga dapat menjadi faktor penting, terutama melalui ukuran tubuh dan pengalaman bermain di lingkungan basket Jepang. Pemain seperti Abraham Grahita dan Andakara Prastawa pun memiliki pengalaman yang bisa membantu menjaga ketenangan ketika pertandingan mulai berjalan dalam tekanan.

Target Indonesia di Grup A memang tidak sederhana. Jepang dan Korea Selatan termasuk kekuatan tradisional Asia, sementara Arab Saudi juga bukan lawan yang dapat dianggap ringan.

Karena itu, laga kedua bukan sekadar kesempatan menebus kekalahan. Pertandingan melawan Korea Selatan akan menunjukkan seberapa cepat skuad Merah Putih mampu belajar dari 40 menit yang sulit menghadapi Jepang.

Kekalahan besar pada pertandingan pertama sudah menjadi kenyataan. Kini ukuran terpenting bukan lagi bagaimana Indonesia memulai Asian Games, melainkan seperti apa respons mereka setelahnya. Jika mampu memperbaiki eksekusi dan menjaga kepercayaan diri, peluang untuk menunjukkan performa yang lebih kompetitif masih terbuka pada pertandingan berikutnya.

You have not enough Humanizer words left. Upgrade your Surfer plan.

banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *