KABARJOGJA mencatat perubahan harga bahan bakar minyak yang menjadi perhatian masyarakat pada Kamis, 10 September 2026. Daftar harga yang berlaku hari ini menunjukkan sejumlah produk BBM nonsubsidi Pertamina berada di level tinggi dibanding Agustus. Namu, penyesuaian tersebut sebenarnya mulai berlakku bertahap sejak 1 dan 2 September 2026, bukan baru ditetapkan pada tanggal 10. Produk yang mengalami kenaikan meliputi Pertamax Turbo, Dexlite, Pertamina Dex, dan Pertamax Green 95, sedangkan Pertamax, Pertalite, serita Biosolar tetap pada harga sebelumnya.
Harga BBM yang Berlaku 10 September 2026
Berdasarkan daftar harga BBM Pertamina 10 September 2026, Pertamax Turbo dengan RON 98 berada di angka Rp19.600 per liter. Pada Agustus, produk ini dijual Rp18.300 per liter sehingga terjadi kenaikan Rp1.300. Dexlite mengalami perubahan yang lebih besar, dari Rp19.700 menjadi Rp23.700 per liter atau naik Rp4.000. Pertamina Dex juga bergerak dari Rp21.150 menjadi Rp25.200 per liter, bertambah Rp4.050.
Pertamax Green 95 ikut naik setelah penyesuaian terpisah yang berlaku mulai 2 September. Harganya berubah dari Rp16.600 menjadi Rp19.150 per liter. Sementara itu, Pertamax RON 92 tetap Rp15.950 per liter. Harga Pertalite juga masih Rp10.000 per liter dan Biosolar berada di Rp6.800 per liter untuk wilayah yang menggunakan acuan harga tersebut. Besaran harga dapat berbeda di sejumlah daerah karena komponen pajak dan ketentuan wilayah penjualan.
Kenaikan harga paling terasa pada kelompok bahan bakar diesel nonsubsidi. Dexlite naik sekitar 20 persen dibanding harga bulan sebelumnya, sementata Pertamina Dex meningkat sekitar 19 persen. Pertamax Turbo bertambah sekitar 7 persen dan Pertamax Green 95 naik sekitar 15 persen. Perubahan ini membuat konsumen kendaraan diesel maupun pengguna bensin beroktan tinggi perlu menyesuaikan kembali anggaran bahan bakar untuk aktivitas harian.
Alasan Harga BBM Nonsubsidi Berubah
Pertamina Patra Niaga menjelaskan bahwa penyesuaian harga BBM nonsubsidi mengacu pada formula yang ditetapkan pemerintah. Sejumlah indikator menjadi pertimbangan, antara lain harga minyak mentah dunia, nilai tukar rupiah, pajak, dan faktor relevan lain termasuk daya beli masyarakat. Karena itu, perubahan harga produk nonsubsidi dapat bergerak mengikuti perkembangan biaya pengadaan dan kondisi pasar, sementara kebijakan untuk produk subsidi berada dalam mekanisme yang berbeda.
Kondisi minyak dunia juga memberi tekanan terhadap pasar energi. Proyeksi terbaru Energy Information Administration Amerika Serikat menunjukkan harga minyak mentah 2026 meningkat dalam perkiraan mereka karena stok global menyusut dan sebagian produksi Timur Tengah mengalami gangguan. EIA memperkirakan harga rata-rata Brent sekitar US$91 per barel sepanjang 2026. Kondisi tersebut menjadi salah satu latar penting bagi pergerakan biaya energi internasional, meski harga jual BBM Indonesia tetap mengikuti formula dan kebijakan domestik.
SPBU Swasta Juga Melakukan Penyesuaian
Perubahan harga tidak hanya terjadi pada jaringan Pertamina. Pada awal September, beberapa operator SPBU swasta juga mengubah harga produk tertentu. Shell V-Power Diesel dan BP Ultimate Diesel tercatat berada di Rp25.420 per liter. BP 92 berada di Rp16.130 per liter dan BP Ultimate Rp16.760 per liter.
Vivo menjual Revvo 92 pada kisaran Rp16.130 per liter, sementara ketersediaan beberapa produk lain sempat terbatas pada sejumlah lokasi. Perubahan harga diesel pada operator swasta memperlihatkan bahwa kenaikan awal September tidak hanya terjadi pada satu perusahaan penyedia bahan bakar.
Bagi konsumen, kenaikan kali ini menegaskan pentingnya membedakan BBM subsidi dan nonsubsidi. Pertalite serta Biosolar belum berubah pada 10 September 2026 sehingga tidak semua jenis BBM ikut naik. Konsumen yang menggunakan Pertamax RON 92 juga belum menghadapi perubahan harga pada periode ini. Dampak terbesar justru dirasakan pengguna Dexlite, Pertamina Dex, Pertamax Turbo, dan Pertamax Green 95.
Harga BBM untuk Wilayah Jawa dan Yogyakarta
Untuk wilayah Jawa, termasuk Daerah Istimewa Yogyakarta, daftar harga acuan Pertamina pada awal September menunjukkan Pertalite Rp10.000, Biosolar Rp6.800, Pertamax Rp15.950, Pertamax Turbo Rp19.600, Dexlite Rp23.700, dan Pertamina Dex Rp25.200 per liter. Pertamax Green 95 kemudian berubah menjadi Rp19.150 per liter mulai 2 September. Konsumen tetap perlu mengecek papan harga di SPBU karena struktur pajak daerah dapat membuat harga beberapa produk berbeda antarwilayah.
Perubahan harga yang cukup lebar pada diesel nonsubsidi membuat perbandingan antarproduk semakin relevan. Selisih Pertamina Dex dan Dexlite kini mencapai Rp1.500 per liter, sedangkan Pertamax Turbo lebih mahal Rp3.650 dibanding Pertamax RON 92. Untuk konsumen yang mengisi 40 liter, kenaikan Dexlite dari harga Agustus berarti tambahan pengeluaran sekitar Rp160.000 sekali pengisian. Pada Pertamina Dex, tambahan biaya untuk volume yang sama mencapai sekitar Rp162.000.
Perhitungan sederhana tersebut menggambarkan mengapa perubahan harga beberapa ribu rupiah per liter cepat terasa bagi kendaraan dengan tangki besar atau mobilitas tinggi. Pengemudi kendaraan operasional, perjalanan antarkota, serta usaha yang bergantung pada armada diesel berpotensi menghadapi penambahan biaya lebih cepat dibanding pengguna kendaraan dengan konsumsi bahan bakar rendah.
Konsumen Perlu Menyesuaikan Pengeluaran
Meski demikian, pilihan bahan bakar tidak sebaiknya hanya ditentukan oleh harga. Konsumen perlu menyesuaikannya dengan rekomendasi rasio kompresi, jenis mesin, kebutuhan cetane atau oktan, serta petunjuk pabrikan kendaraan. Penggunaan bahan bakar sesuai spesifikasi membantu menjaga performa mesin dan menghindari keputusan jangka pendek yang justru dapat meningkatkan biaya perawatan.
Kenaikan harga BBM nonsubsidi juga berpotensi memengaruhi biaya operasional rumah tangga dan usaha yang bergantung pada kendaraan pribadi atau armada diesel. Pengaruhnya tidak selalu langsung terasa pada seluruh harga barang, tetapi biaya transportasi yang lebih tinggi dapat menambah beban operasional pada sektor tertentu. Pengguna kendaraan dengan konsumsi bahan bakar tinggi menjadi kelompok yang paling cepat merasakan perbedaan pengeluaran bulanan.
Dengan selisih harga yang semakin besar, pengendara dapat merencanakan perjalanan secara lebih efisien, mengurangi rute yang tidak diperlukan, dan memantau rata-rata konsumsi bahan bakar kendaraan. Langkah sederhana tersebut dapat membantu mengendalikan pengeluaran tanpa mengabaikan kebutuhan teknis mesin.
Pada 10 September 2026, harga BBM nonsubsidi tertentu masih berada pada level baru yang berlaku sejak awal bulan. Pertalite, Biosolar, dan Pertamax RON 92 belum mengalami perubahan dalam daftar harga hari ini. Masyarakat tetap perlu memperhatikan jenis BBM, wilayah pembelian, serta pembaruan harga berkala karena produk nonsubsidi dapat kembali mengalami penyesuaian mengikuti formula pemerintah dan perkembangan pasar energi.













