banner 728x250
Berita  

Seniman Tiga Negara Berkolaborasi di Yogyakarta

banner 120x600
banner 468x60

Kabar Jogja mencatat seniman dari Indonesia, Malaysia, dan Singapura berkolaborasi di Yogyakarta melalui program regional Embracing Shared Heritage through Performing Arts yang menghadirkan dua karya utama sepanjang Oktober 2026. Program tersebut mempertemukan seniman lintas negara untuk mengolah pengalaman sejarah, identitas, alam, bahasa, dan migrasi menjadi pertunjukan yang menghubungkan warisan budaya Asia Tenggara.

Inisiatif ini dijalankan UNESCO bersama Temasek Foundation. Menurut ANTARA, dua pertunjukan utama yang menjadi puncak program adalah “Hutan” dan “Rumah dari Lidah”.

banner 325x300

Head of Culture UNESCO Regional Office in Jakarta Moe Chiba menjelaskan program tersebut bertujuan membuka ruang bagi seniman dari berbagai negara untuk bertemu secara langsung, bertukar gagasan, serta menciptakan karya baru berdasarkan warisan budaya yang saling berhubungan.

Hutan Angkat Relasi Manusia dan Alam

Pertunjukan “Hutan” menjadi salah satu karya utama dalam program ini.

Pementasan tersebut berlangsung pada 6–7 Oktober sebagai bagian dari Pesta Boneka di Kampung Media.

Tema yang diangkat berfokus pada hubungan manusia dengan hutan sebagai ruang alam sekaligus ruang budaya.

Hutan tidak hanya ditempatkan sebagai latar geografis.

Dalam banyak masyarakat Asia Tenggara, kawasan hutan memiliki hubungan dengan kehidupan sosial, mitologi, pangan, ekonomi, hingga tradisi.

Pendekatan tersebut memungkinkan penonton melihat lingkungan melalui perspektif yang lebih luas.

Pertunjukan juga dirancang menggunakan pendekatan inklusif agar dapat dinikmati oleh beragam kelompok penonton, termasuk individu neurodivergent.

Konsep aksesibilitas seperti ini memperlihatkan bahwa seni pertunjukan tidak hanya berbicara tentang isi karya.

Cara karya disampaikan kepada penonton juga menjadi bagian penting dari proses kreatif.

Rumah dari Lidah Hadir di Bedog Arts Festival

Karya kedua, “Rumah dari Lidah”, dijadwalkan tampil pada 9–10 Oktober di Studio Banjarmili dalam rangka Bedog Arts Festival.

Pertunjukan tersebut berfokus pada identitas masyarakat peranakan.

Cerita dikembangkan dari pengalaman migrasi dan pertukaran budaya lintas generasi di Indonesia, Malaysia, dan Singapura.

Sutradara Melati Suryodarmo tidak ingin identitas peranakan ditampilkan hanya melalui satu perspektif.

Karya tersebut menggunakan berbagai lapisan pengalaman, termasuk bahasa, makanan, kenangan, dan sejarah keluarga.

Menurut VOI, dua pementasan ini menjadi bagian dari upaya memperlihatkan bahwa banyak unsur budaya Asia Tenggara sebenarnya memiliki hubungan yang melintasi batas negara modern.

Pendekatan ini penting karena hubungan budaya di kawasan telah berlangsung jauh sebelum lahirnya batas administratif yang dikenal saat ini.

Seni Jadi Jembatan Antarnegara

Kerja sama lintas negara melalui seni memiliki karakter berbeda dibanding forum formal.

Seniman dapat membicarakan isu sejarah dan identitas melalui pengalaman personal.

Penonton tidak hanya menerima informasi, tetapi diajak melihat pengalaman melalui gerak, suara, visual, dan narasi.

James Chan dari Temasek Foundation menilai seni memiliki kemampuan membangun hubungan antarkebudayaan.

Pertemuan para seniman juga dapat menciptakan jaringan baru yang bertahan setelah program selesai.

Kolaborasi semacam ini menjadi semakin relevan ketika masyarakat kawasan menghadapi perubahan sosial yang cepat.

Migrasi, urbanisasi, teknologi, dan pertumbuhan kota terus mengubah cara generasi muda memahami identitas.

Seni dapat menjadi ruang untuk memeriksa kembali hubungan antara pengalaman masa lalu dan kehidupan saat ini.

Program Berjalan Sejak 2025

Embracing Shared Heritage through Performing Arts tidak dimulai secara tiba-tiba.

Program tersebut diluncurkan pada 2025.

Sejak saat itu, kegiatan telah melibatkan seniman, peneliti, mahasiswa, serta pelaku budaya dari tiga negara.

Prosesnya tidak hanya berupa pementasan.

Peserta mengikuti lokakarya, diskusi, penelitian, serta pertukaran seni.

Tahapan panjang tersebut penting karena karya kolaboratif membutuhkan pemahaman mengenai konteks masing-masing peserta.

Seniman dari negara berbeda dapat memiliki pengalaman serupa, tetapi menggunakan bahasa dan simbol yang tidak sama.

Proses diskusi memberi kesempatan untuk menemukan titik pertemuan.

Hasilnya kemudian diterjemahkan menjadi karya yang dapat dinikmati publik.

Yogyakarta Jadi Ruang Pertemuan Budaya

Pemilihan Yogyakarta memiliki konteks yang kuat.

Kota ini memiliki ekosistem seni yang aktif.

Galeri, ruang pertunjukan, komunitas, kampus seni, serta festival berkembang dalam berbagai skala.

Yogyakarta juga menjadi tempat tinggal seniman dari banyak daerah.

Kondisi tersebut menciptakan ruang interaksi yang relatif terbuka.

Festival seperti Pesta Boneka dan Bedog Arts Festival tidak hanya menarik penonton lokal.

Kegiatan tersebut juga memiliki jaringan internasional.

Kehadiran kolaborasi Indonesia, Malaysia, dan Singapura semakin memperkuat fungsi Yogyakarta sebagai ruang temu.

Bedog Arts Festival Perkuat Ekosistem Lokal

Pementasan “Rumah dari Lidah” di Studio Banjarmili menghubungkan program regional dengan ekosistem budaya lokal.

Bedog Arts Festival telah lama menjadi ruang bagi berbagai bentuk seni.

Lokasinya yang berada di Sleman memberikan karakter berbeda dibanding pertunjukan di gedung konvensional.

Lingkungan, masyarakat, dan ruang sekitar ikut menjadi bagian pengalaman penonton.

Event budaya juga memiliki dampak ekonomi.

Pengunjung membutuhkan transportasi, makanan, penginapan, dan berbagai layanan.

Pelaku usaha lokal dapat memperoleh manfaat jika kegiatan berlangsung konsisten.

Namun nilai utama festival tetap berada pada fungsi budaya.

Masyarakat mendapat kesempatan melihat karya yang tidak selalu hadir melalui saluran hiburan komersial.

Membaca Asia Tenggara dari Pengalaman Bersama

Indonesia, Malaysia, dan Singapura memiliki banyak hubungan historis.

Bahasa, perdagangan, migrasi, makanan, serta tradisi berkembang melalui interaksi selama berabad-abad.

Batas negara kemudian membentuk identitas politik yang berbeda.

Namun praktik budaya sering tetap memiliki kesamaan.

Karya seperti “Rumah dari Lidah” mencoba membaca hubungan tersebut dari pengalaman manusia.

Makanan misalnya dapat menjadi simbol perpindahan keluarga.

Bahasa dapat menunjukkan bagaimana identitas berubah ketika seseorang tinggal di tempat baru.

Ingatan keluarga juga dapat menyimpan sejarah yang tidak muncul dalam buku pelajaran.

Pendekatan semacam ini membuat seni memiliki fungsi dokumentasi yang unik.

Kolaborasi Bisa Berlanjut

Program lintas negara membuka kemungkinan kerja sama baru setelah pementasan selesai.

Seniman yang telah bertemu dapat membuat proyek lain secara mandiri.

Institusi budaya juga dapat mengembangkan jaringan pertukaran lebih luas.

Bagi Yogyakarta, aktivitas semacam ini memperkuat citra kota sebagai salah satu pusat seni di Asia Tenggara.

Namun keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh jumlah acara.

Yang lebih penting adalah keberlanjutan hubungan antara seniman dan masyarakat.

Pementasan Hutan dan Rumah dari Lidah menunjukkan bahwa warisan budaya tidak harus diperlakukan sebagai sesuatu yang statis.

Warisan dapat menjadi bahan untuk menciptakan karya baru, membicarakan isu kontemporer, dan membangun hubungan antarnegara.

banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *