Kabar Jogja mencatat kualitas udara di sejumlah wilayah Kalimantan memburuk pada 19–20 Oktober 2026 seiring meningkatnya konsentrasi partikulat dan karbon monoksida. Palangka Raya menjadi salah satu wilayah yang perlu mendapat perhatian setelah konsentrasi PM10 diprakirakan mencapai 756,3 mikrogram per meter kubik, jauh di atas batas harian yang digunakan pemerintah sebagai rujukan kualitas udara.
Berdasarkan prakiraan kualitas udara, angka PM10 di Palangka Raya berada jauh di atas ambang 75 mikrogram per meter kubik untuk periode 24 jam. Kondisi serupa juga perlu diwaspadai di Pontianak dan beberapa wilayah lain yang mengalami peningkatan polutan.
PM10 Bisa Masuk ke Sistem Pernapasan
PM10 merupakan partikel udara berukuran sangat kecil.
Ukuran diameternya sekitar 10 mikrometer atau lebih kecil.
Partikel dapat berasal dari debu, pembakaran, asap kendaraan, kebakaran hutan, serta berbagai aktivitas lain.
Karena ukurannya kecil, PM10 mudah terhirup.
Sebagian partikel dapat masuk ke saluran pernapasan bagian bawah.
Paparan dalam konsentrasi tinggi dapat menimbulkan iritasi tenggorokan, batuk, sesak, dan memperburuk penyakit yang sudah ada.
Orang dengan asma dan penyakit paru kronis termasuk kelompok yang lebih sensitif.
Karhutla Menjadi Salah Satu Faktor Risiko
Kalimantan masih menghadapi risiko kebakaran hutan dan lahan pada periode kering.
Asap karhutla mengandung berbagai polutan.
PM10 dan PM2.5 menjadi dua komponen yang sering mendapat perhatian karena dampaknya terhadap sistem pernapasan.
Selain partikulat, pembakaran juga menghasilkan karbon monoksida.
Gas ini tidak berwarna dan tidak berbau.
Pada konsentrasi tinggi, karbon monoksida dapat mengganggu kemampuan darah membawa oksigen.
Karena itu, kondisi udara buruk tidak hanya terlihat dari adanya asap tebal.
Udara yang tampak normal pun dapat mengandung polutan berbahaya.
Anak dan Lansia Lebih Rentan
Dampak kualitas udara tidak sama bagi semua orang.
Anak-anak memiliki sistem pernapasan yang masih berkembang.
Mereka juga cenderung bernapas lebih cepat dibanding orang dewasa saat aktif.
Hal tersebut dapat meningkatkan jumlah polutan yang masuk.
Lansia juga lebih rentan karena lebih banyak memiliki penyakit penyerta.
Penderita penyakit jantung, paru, asma, dan gangguan pernapasan kronis perlu lebih berhati-hati.
Kementerian Kesehatan sebelumnya mengeluarkan imbauan kelompok rentan untuk membatasi aktivitas di luar rumah ketika kabut asap dan polusi berada pada kondisi tidak sehat.
Masker Bisa Membantu Mengurangi Paparan
Masyarakat yang harus keluar rumah dapat menggunakan masker dengan kemampuan filtrasi partikulat.
Masker yang rapat lebih efektif dibanding masker kain biasa.
Namun penggunaan masker bukan solusi untuk seluruh persoalan.
Kebocoran di sisi masker dapat mengurangi efektivitas.
Anak juga perlu menggunakan ukuran yang sesuai.
Jika kualitas udara benar-benar masuk kategori berbahaya, mengurangi waktu berada di luar tetap menjadi langkah paling penting.
Aktivitas olahraga berat di luar sebaiknya ditunda.
Ketika berolahraga, frekuensi napas meningkat sehingga jumlah udara yang masuk ke tubuh juga lebih besar.
Sekolah Perlu Menyesuaikan Aktivitas
Kondisi kualitas udara buruk dapat memengaruhi kegiatan sekolah.
Olahraga, upacara, atau kegiatan luar ruangan perlu disesuaikan dengan kondisi.
Sekolah dapat memindahkan aktivitas ke dalam ruangan.
Jendela juga perlu dikelola sesuai sumber polusi.
Jika udara luar sangat buruk, membuka semua ventilasi justru dapat membuat partikulat masuk lebih banyak.
Pada bangunan yang menggunakan pendingin ruangan, filter udara perlu dibersihkan secara rutin.
Pemerintah daerah sebaiknya memberi informasi yang jelas agar sekolah mengetahui kapan kegiatan luar harus dibatasi.
Puskesmas Harus Mengantisipasi Kenaikan Keluhan
Kabut asap dapat meningkatkan kunjungan pasien dengan keluhan pernapasan.
Puskesmas di wilayah terdampak perlu menyiapkan obat dan tenaga.
Keluhan ringan seperti mata perih dan batuk dapat muncul lebih dulu.
Namun sebagian pasien dapat mengalami sesak berat.
Orang dengan penyakit kronis sebaiknya memastikan obat rutin tetap tersedia.
Masyarakat juga tidak perlu menunggu kondisi terlalu parah sebelum mencari pertolongan.
Gejala seperti sesak yang memburuk, nyeri dada, atau penurunan kesadaran membutuhkan penanganan medis.
Pemantauan Kualitas Udara Harus Mudah Diakses
Masyarakat akan lebih mudah mengambil keputusan jika data tersedia secara real time.
Informasi kualitas udara dapat digunakan untuk menentukan kapan aman berolahraga, membawa anak keluar, atau membuka ventilasi.
BMKG telah menyediakan peta kualitas udara.
Namun masyarakat perlu memahami arti setiap kategori.
Angka teknis seperti mikrogram per meter kubik bisa sulit dipahami tanpa penjelasan.
Karena itu, informasi sebaiknya disertai kategori sederhana seperti baik, sedang, tidak sehat, sangat tidak sehat, dan berbahaya.
Karhutla Tidak Bisa Ditangani Hanya Saat Asap Muncul
Ketika asap sudah menutupi kota, biaya penanganan jauh lebih besar.
Pencegahan harus dilakukan sejak kondisi lahan mulai mengering.
Wilayah gambut menjadi salah satu titik penting.
Gambut yang kering sangat mudah terbakar.
Api juga dapat bergerak di bawah permukaan.
Pemadaman memerlukan waktu lama.
Pembasahan gambut, patroli rutin, dan pengawasan pembukaan lahan perlu dilakukan sebelum puncak musim kering.
Perusahaan pemegang konsesi juga harus memastikan wilayahnya tidak menjadi sumber kebakaran.
Masyarakat Jangan Membakar Sampah Sembarangan
Sumber polusi udara tidak hanya berasal dari karhutla.
Pembakaran sampah rumah tangga juga menambah partikulat.
Pada kondisi udara sudah buruk, tambahan asap lokal memperparah situasi.
Masyarakat perlu menghindari pembakaran terbuka.
Sampah sebaiknya dikelola melalui sistem pengangkutan atau pengolahan yang tersedia.
Pemerintah daerah juga harus menyediakan alternatif agar masyarakat tidak merasa pembakaran sebagai satu-satunya pilihan.
Hujan Bisa Membantu tetapi Bukan Solusi Permanen
Curah hujan dapat menurunkan konsentrasi partikulat dalam waktu singkat.
Air membawa partikel turun dari atmosfer.
Namun jika sumber kebakaran masih aktif, polusi dapat kembali ketika udara mengering.
Karena itu, datangnya hujan tidak berarti masalah selesai.
Petugas tetap perlu memadamkan titik api dan memantau lahan.
Perubahan arah angin juga dapat memindahkan asap ke wilayah yang sebelumnya tidak terdampak.
Kondisi Ini Menjadi Peringatan Serius
Angka PM10 hingga 756,3 mikrogram per meter kubik menunjukkan kualitas udara bukan hanya persoalan kenyamanan.
Kondisi tersebut berhubungan langsung dengan kesehatan.
Pemerintah daerah, petugas karhutla, layanan kesehatan, sekolah, serta masyarakat harus merespons bersama.
Dalam jangka pendek, prioritas adalah mengurangi paparan.
Dalam jangka panjang, pencegahan kebakaran dan pengelolaan lingkungan harus diperkuat.
Kualitas udara yang aman seharusnya menjadi layanan dasar.
Masyarakat tidak semestinya harus memilih antara tetap beraktivitas atau mempertaruhkan kesehatan hanya karena udara di luar rumah berada pada tingkat berbahaya.

















